Curhatan Seorang Ibu 1
oleh Admin Rabu, 24 Agustus 2016 Tips Mendidik Anak
Curhatan Seorang Ibu 1

[Tulisan #1 dari 2]

Bolehkah saya curhat? Begitu tanya seorang ibu di ujung telpon sambil terisak. Tanpa menunggu jawaban, si ibu langsung menceritakan keadaan yang sedang dia hadapi. Sebuah ujian kesabaran yang tak semua orang tua sanggup menghadapi – begitulah ia mengkategorikan kondisinya.

Beragam bumbu cerita ia sampaikan tentu dengan aroma ketidakberdayaan sekaligus kecemburuan terhadap orang tua lain yang terlihat nyaman-nyaman saja membesarkan anaknya.
Begini kisah anaknya. Dari tiga orang anaknya, yang bermasalah adalah yang nomer dua. Dari kecil ia mengalami syndrom telat wicara. Di usia lima tahun baru ia bisa normal berkomunikasi. Saat ini dia sudah duduk di kelas akhir sekolah menengah pertama dan sampai di  titik ini hampir semua teman, kenalan termasuk guru-guru anaknya mengucapkan salut kepada sang ibu bisa tahan membesarkan anaknya.

Ada apa dengan anaknya?
Anaknya pemarah sekali, mudah mengamuk, dan kalau mengamuk apapun yang ada di hadapannya akan dijadikan media penyaluran kemarahannya. Tak benda, hewan, orangpun akan jadi sasarannya. Hal ini terjadi sudah sejak dari dia masuk sekolah. Pantang disindir, tak mau diremehkan.
Demikian deskripsi anak yang disampaikan oleh si ibu. Untungnya ibu ini menyadari kelebihan dari anaknya. Dia memiliki cita-cita dan kemauan untuk menggapai cita-citanya tersebut. Secara inteligensia yang diukur dari rangking di kelasnya ia termasuk menengah ke atas – termasuk rangking 10 besar di kelas.

Sampai pada titik menceritakan kelebihan yang dimiliki anaknya sang ibu berangsur berubah dari kesedihan kepada kebanggaan. Hingga ia lupa tangisan di awal percakapan.
Lalu kutanya...
Jadi apa yang ibu inginkan?
Disini dia teringat kembali awal kesedihan yang mendorong ia menghubungi seseorang untuk mencurahkan beban yang dia rasakan agar dapatkan penyelesaian.
Si ibu lalu mengatakan – saya tidak ingin anak saya jadi anak nakal, anak yang mudah marah, anak yang mudah tersinggung, mudah mengamuk. Termasuk juga supaya anak saya tidak main game. Pernah saya katakan ke dia kalau game itu adalah syetan dan saya katakan ke dia jangan main game nanti ketagihan.

Itulah keluhan yang disampaikan oleh si ibu dari ujung telepon. Adakah diantara Ayah/Bunda yang tengah membaca artikel ini mengalami hal yang serupa? Kalau pun tidak sama persis setidaknya ada kemiripanlah.
Bila jawabannya adalah iya maka mari kita niatkan untuk segera menemukan jalan keluarnya. Bilamana fenomena itu muncul dan tidak segera diselesaikan – maka ia kan menjadi jalan munculnya perilaku yang lebih mengerikan. Dan ingat kalau pun tak muncul di hari tertentu, di waktu tertentu, di periode tertentu – bukan berarti ia telah benar-benar selesai. Ibarat gunung berapi, saat iya tidak batuk ataupun tidak mengeluarkan ‘kegaduhannya’ tak berarti dia tidak berbahaya. Yang terjadi adalah ia menyimpan energi yang berpotensi membawa bahaya lebih besar lagi.

So, mari temukan solusinya.

Artikel Berikutnya:
http://hasbiparenting.com/curhatan-seorang-ibu-2-detail-6761.html
http://hasbiparenting.com/keluarga-sadar-berbahasa-anak-lengkap-rasakan-cinta-detail-6505.html

Salam #Inspirasi
Coach Hasbi

__________________________________________________________________
Ingin Undang Coach Hasbi jadi Pembicara dan Pelatih dalam Training?
Hubungi 0813 7461 4730