Ketika Sekolah Tak Lagi Ramah Mari Perkuat Pilar Pendidikan 2
oleh Admin Jum'at, 31 Juli 2015 Anak Remaja Tantangan dan Jawabannya
Ketika Sekolah Tak Lagi Ramah Mari Perkuat Pilar Pendidikan 2

[Bagian 2 dari 2 Tulisan]

Tiga Tangan Kepedulian

Momen peringatan hari pendidikan nasional yang baru saja kita rayakan seharusnya menjadi refleksi dan motivasi untuk mengakhiri drama yang dipertontonkan selama ini: saling menyalahkan. Ketika membicarakan perilaku menyimpang yang dilakukan atau yang menimpa siswa saatnya satukan visi untuk mengakhirinya. Mari duduk bersama untuk mengatasinya, ambil pelajaran dari setiap pengalaman lalu siapkan rencana untuk mencegah agar tak lagi terulang. Saatnya ketiga pilar pendidikan (rumah, sekolah, dan komunitas) bersinergi dengan mengedepankan spirit pengayoman laiknya tiga tangan yang kan membelai anak-anak bangsa dengan penuh kasih sayang. 

Kasih Sayang di Rumah Jadi Awal Melangkah

Dalam satu percakapan seorang wali murid sebuah sekolah kecewa dengan kondisi anaknya yang pembohong, melawan aturan, cuek, dan sifat jelek lainnya. Orang tua mengeluhkan tentang pendidikan seperti apa yang didapatkan anaknya di sekolah hingga anaknya banyak ulah. Kenyataannya, tidakkah orang tua adalah guru pertama mereka.  Maka pertanyaannya adalah sudahkah orang tua menjadi 'role model' bagi anak?

Selain itu penting juga menjawab pertanyaan sudahkah orang tua memiliki pemahaman tentang pendidikan dan memiliki wawasan yang cukup untuk mendukungnya. Jangan-jangan sekolah justru menjadi pelarian ketidak mampuan orang tua dalam pengasuhan. Jangan-jangan orang tua dinina bobokkan dengan stigma bahwa guru di sekolah adalah perpanjangan tangan orang tua.

Orang tua perlu menyadari bahwa rumah adalah sekolah pertama bagi setiap anak. Fondasi pendidikanditentukan oleh pengajaran yang dilakukan di rumah. Kasih sayang orang tua menentukan tidak hanya tingkat kehadiran tapi juga pencapaian dalam pembelajaran. Studi pun telah membuktikanbahwa rumah memberi pengaruh  60 hingga 80% dari pencapaian pembelajaran. Sementara sekolah hanya berperan 20 – 40% saja. Ini bermakna bahwa keluarga sangat berperan dalam pendidikan seorang anak.

Beberapa hal yang harus menjadi perhatian oleh orang tua dan pengasuh di rumah agar pendidikan bisa maksimal dijalankan antara lain memperbaiki pola pengasuhan. Memiliki ilmu tentang pengasuhan menjadi syarat agar perbaikan ini bisa dilakukan. Selanjutnya orang tua harus mampu mengenali potensi yang dimiliki oleh anak agar tak salah dalam memilih cara memotivasi dan cara mendekatinya. Mengenal anak juga membantu menfasilitasi mereka dalam cara pebelajaran yang terbaik buat mereka. Lalu yang juga perlu dilakukan oleh orang tua adalah memberi perhatian terhadap perkembangan pembelajaran yang dilakukan di sekolah. Tak sekedar bertanya pada anak, tapi juga berkomunikasi dengan pihak sekolah. Karena itu rumah adalah sekolah pertama anak, kasih sayang yang didapatkan menjadi awal melanjutkan pendidikan dan pembelajaran.

Tauladan di Sekolah Tersedia Melimpah

Begitu besarnya harapan orang tua pada sekolah sehingga beberapa di antara mereka bersedia mengeluarkan biaya hingga harus menahan kebutuhan lain juga mendesak. Apakah sekolah bisa memenuhi harapan orang tua tersebut? Beberapa di antara sekolah memberi ruang untuk orang tua menyampaikan yang diinginkan, beberapa yang lain justru abai bahkan tak senang ketika ada orang tua yang memberi masukan.

Apapun kondisinya, sekolah bukanlah ekspres laundry dimana orang tua datang di pagi hari mengantarkan anak dengan segala macam problematikanya lalu dijemput siang atau sore hari sudah jadi lebih baik lagi. Inilah sebagian dinamika yang nyata ada.

Lingkungan pembelajaran di sekolah tak hanya sebatas fasilitas, ruang kelas, ataupun kelengkapan pembelajaran lainnya. Yang lebih penting dari semua itua dalah kesiapan pelaksanaan proses belajar mengajar dimulai dari keamanan, kenyamanan, guru, sampai administrasi. Saatnya tinggalkan gonjang-ganjing politik di lingkungan lembaga pendidikan, mari bersinergi untuk kebaikan, biarkan yang baik terus berkembang, dan pada saat yang sama setiap individu memperbaiki diri. Mari sejenak lupakan angka-angka untuk lebih fokus memperbaiki prosesnya. Angka-angka adalah bonusdari proses yang benar. Semakin baik proses, semakin baik angka-angka yang didapat.

Duhai Bapak-ibu Guru…Ketulusan dalam bekerja dan totalitas dalam pengabdian menjadi kunci munculnya tauladan. Kejujuran adalah harga mati yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Mari membuka diri untuk berkomunikasi dan membangun sinergi dengan orang tua sisa. Beritahu apa yang perlu dilakukan oleh ayah-ibu agar bisa membantu proses pembelajaran berkesinambungan. 

Lingkungan Ramah yang Menjaga Tingkah

Gaya pergaulan yang makin mengabaikan kebersamaan menjadikan lingkungan tak lagi begitu peduli dengan apa yang terjadi. Masyarakat lebih permisif enggan memperbaiki karena sibuk dengan urusan sendiri. Sarana komunikasi tersedia seiring kemajuan tekhnologi, namun interaksi yang dangkallah yang terjadi dan tak menyentuh hal yang esensi bahkan tak jarang hanya basa-basi. Ramah tamah bukan barang yang murah, bahkan langka adanya.

Karena itu, masyarakat perlu kembali menyadari kuatnya pengaruh tekhnologi sehingga tak ada lagi harmonisasi komunikasi antar hati. Mari menangi kompetisi dengan tekhnologi yang makin menjadi-jadi ini. Mari sadari bahwa kita belum mengilmui cara memenangi kembali atensi buah hati. Mari sadari pula bahwa kejadian yang memalukan sekaligus memilukan bisa saja ada di tempat lain, bahkan bisa jadi anak kita sendirilah yang menjadi korban (na’uzubillah).

Pemahaman dan pengamalan agama menjadi kunci kesuksesan kolaborasi pendidikan antara sekolah, rumah dan lingkungan. Kepedulian untuk terus memperkuat iman harus pula menjadi perhatian. Karena itu pendidikan harus melampaui tinggi tembok pagar sekolah, dan melampaui batas pagar-pagar rumah. Libatkan lingkungan untuk juga beri pengajaran tentang kesopanan, kejujuran, tata krama, dan juga keharmonisan.  

Ketika ketiga tangan (rumah, sekolah, dan lingkungan) tak lagi bergandengan alamat anak semakin terabaikan. Ketika ketiga tangan saling menyalahkan alamat anak makin tersudutkan. Ketika ketiga tangan seolah bertolak berlakang, alamat anak makin tertekan. Ketika anak terabaikan dan mereka makin tersudutkan, bahkan terus tertekan tak perlu heran kalau kelakuan mereka makin meresahkan.

Sekaranglah saatnya ketiga tangan saling bergandengan. Mari segera lakukan perubahan ke arah perbaikan. Mari terus belajar agar pilar yang menopang bangunan pendidikan kita tak lagi retak, tapi menjadi kuat  dengan pondasi kokoh menghunjam ke dalam bumi pertiwi. Kalau tidak lewat pendidikan, dengan apalagi kita memperbaiki negeri ini?

Salam #Inspirasi
dari

Coach Hasbi


Untuk Artikel Selanjutnya, Silahkan Baca : 
http://hasbiparenting.com/ketika-sekolah-tak-lagi-ramah-mari-perkuat-pilar-pendidikan-detail-5684

Ikuti channel youtube kami di:
www.YouTube.com/HasbiParenting
_________________________________________
Ingin Undang jadi Pembicara & Pelatih?
Hubungi 0813 7461 4730