Ketika Sekolah Tak Lagi Ramah Mari Perkuat Pilar Pendidikan
oleh Admin Jum'at, 31 Juli 2015 Anak Remaja Tantangan dan Jawabannya
Ketika Sekolah Tak Lagi Ramah Mari Perkuat Pilar Pendidikan

[Bagian 1 dari 2 Tulisan]

“Kecil terancam jadi korban kekerasan teman, guru kekejaman dan pelecehan sekolah; Besar terancam jadi korban penyiksaan senior, ”inilah refleksi sebagian orang atas pemikiran yang melingkupi dunia pendidikan kita. Bisa jadi ada yang berkilah itu dikumpulkan demi kemenangan yang ada di dunia pendidikan belum menjadi konsumsi seksi untuk disajikan oleh para pembuat berita. Tapi bertubi-tubinya berita dan berulang-ulangnya menyadarkan kita kesulitan rapuhnya bangunan pendidikan yang ada saat ini.

Di bulan Mei setiap tahun, kita mengadakan hari pendidikan nasional, baik dalam bentuk upacara maupun pertemuan yang mengiringinya seperti seminar, pameran pendidikan, ceramah, kuliah umum, atau penyerahan penghargaan pada mereka yang berprestasi. Mencari Google Artikel Tantangan Yang Semakin Luas, Dan Perkembangan tekhnologi Yang Semakin Cepat MEMBUAT ranah Pendidikan TIDAK Hanya bersentuhan DENGAN Dinamika di Dunia Nyata tetapi also dunia maya Yang Semakin rumit, pertanyaannya kemudian Semakin MENINGKAT hearts kepedulian SEMUA parties Berlangganan ( pemangku kepentingan ) hearts Perkembangan Dunia Pendidikan DENGAN aneka Tantangannya yang kian beragam?

Ibarat bangunan para pemangku kepentingan dapat dirancang sebagai pilar yang menopang dibangun kokoh dan kokoh berdiri. Secara sederhana, bangunan pendidikan ditopang oleh tiga pilar utama yaitu sekolah, rumah tangga, dan lingkungan (masyarakat luas). Karena menjadi penopang utama, perlu dipertanyakan pula masing-masing tiang itu sendiri agar dapat digunakan tumpuan tegaknya bangunan kokoh dunia pendidikan.

Foto buram dunia pendidikan yang terlihat melalui pemberitaan di media cetak dan eletronik tak hanya jadi pengingat bagi seluruh elemen bangsa yang senang berbudaya mulia tapi juga tamparan bagi pembelanjaan pendidikan dan bisa jadi perenungan demi kepentingan   pendidikan di Negara kita. Sayangnya, tak banyak yang menjadikannya pelajaran agar ada perubahan dan perbaikan di masa depan yang akan datang.   Bukannya berulang kali terjadi memalukan sekaligus memilukan terus berulang. Dari intimidasi antar sesama siswa, lolos ke tantangan oleh para pendidiknya, hingga masyarakat yang ikut serta menjadi pertahanan penistaan ​​peserta didik.

Melanjutkan kejadian memalukan hingga berakhir pada kematian mempertimbangkan juga berfikir semangat belajar dan perbaikan belum menjadi ruh di tengah masyarakat banyak. Pendidikan sebagai proses mengubah sikap dan tata cara seseorang atau kelompok orang menuju jauh dari harapan pendewasaan manakala proses belajar hanya mengejar angka-angka kelulusan, nilai-angka nilai kumulatif, termasuk juga mencari kuliah-perguruan tinggi sebagai asesoris pelengkap dan penghias untuk disematkan di samping nama . Segera diperoleh, semangat belajar sebagai padam, buku pelajaran yang diambil bahkan tak jarang menjadi sampah di dalam gudang, atau ditimbang jadi barang kiloan.

Lebih memprihatinkan lagi kompilasi pendidikan tak seutuhnya melibatkan semua pihak yang menjadi kepentingan sulit menemukan lembaga pendidikan yang melibatkan dan bersinergi dengan pihak-pihak terkait agar muncul semangat perbaikan masif. Alih-alih terlibat selain bersinergi, malah yang terjadi semua pihak malah berlepas tangan malah saling tunjuk jari. Melempar tanggung jawab atas apa yang terjadi pada pihak lain. Sekolah menyalahkan orang tua di rumah dan lingkungan yang tak lagi ramah. Anggota keluarga di rumah menuduh Lingkungan dan sekolah menjadi becus mengurusi anak didik, sementara lingkungan sekolah jadi ekslusif sementara rumah tangga jadi tertampung oleh tembok pagar yang makin menjulang. 

Salam #Inspirasi
dari

Pelatih Hasbi

Untuk Artikel Selanjutnya, Silakan Baca:  http://hasbiparenting.com/ketika-sekolah-tak-lagi-ramah-mari-perkuat-pilar-pendidikan-2-detail-5685

___________________________________________
Undang jadi Pembicara & Pelatih?
Hubungi 0813 7461 4730


Ikuti channel youtube kami di:
www.YouTube.com/HasbiParenting