Pesan Kebaikan Untuk Anak dan Keluarga Dalam Ibadah Qurban
oleh Admin Kamis, 22 September 2016 Islamic Parenting
Pesan Kebaikan Untuk Anak dan Keluarga Dalam Ibadah Qurban

Pengantar

Tanpa terasa kita sudah berada di bulan ke sebelas dalam penanggalan Islam – bulan Dzulqa’idah 1436 H. Salah satu bulan yang disucikan bersama tiga bulan lainya yaitu Dzulhijah, Muharram dan Rajab. Terdapat banyak perintah dan larangan yang Allah gariskan untuk diperhatikan pada bulan-bulan ini. Mendahului bulan Dzulqa’idah, ada Bulan Ramadhan dan Bulan Syawal. Bila diperhatikan dari susunan bulan-bulan ini, ada satu pesan yang tersirat yang dapat menyadarkan kita betapa hebat Allah merancang segala sesuatu termasuk waktu.

Perputaran waktu membawa banyak catatan sejarah dari para pelaku yang hidup di tiap-tiap periode. Beruntunglah mereka yang bisa mengambil pelajaran dari setiap peristiwa sehingga bisa mengelola kehidupan saat ini dan mengantisipasi masa yang akan datang.

Setiap orang tua perlu memperhatikan perubahan yang terjadi pada anak-anaknya seiring pertambahan usia mereka. Di masa sekarang ada banyak tantangan yang menghantui orang tua dalam tumbuh kembang anaknya. Ada banyak yang perlu dilakukan ada lebih banyak lagi yang harus diperbaiki. Kemalasan beribadah, keengganan berkorban, minimnya kepedualian sosial, virus kerusakan yang datang dari kiri, kanan, depan dan belakang.

Tak begitu lama lagi umat Islam akan merayakan suatu peristiwa penting dalam sejarah kenabian dan sekaligus menjadi ibadah penting dalam ajaran Islam yaitu ibadah qurban. Ada banyak pelajaran parenting bisa diambil dari keluarga Ibrahim AS yang sangat patut ditiru oleh orang tua di zaman sekarang dalam membangun sebuah keluarga bahagia dan penuh keberkahan.

Taqwa Adalah Bekal Sebaik-baik Bekal (2: 197)

Sebelum lebih jauh mengambil hikmah dan pelajaran dari keluarga Ibrahim AS, perlu kiranya mengetahui terlebih dahulu apa yang menjadi landasan utama tegaknya satu bangunan rumah tangga. Fondasi yang menopang pilar-pilar satu keluarga tidak lain adalah taqwa.

Keluarga yang dibangun di atas fondasi taqwa ibarat sebuah pohon besar yang kokoh dimana akarnya menghunjam jauh ke bumi, batangnya kuat berdiri, daunnya rimbun menjangkau langit. Hujan badai takkan mampu menumbangkan pohon ini karena besarnya batang di topang oleh akar kuat yang menghunjam. Kekeringan pun tak membuatnya mati karena akarnya bisa menjangkau sumber-sumber air bawah tanah. Akar inilah yang menjadi fondasi. Inilah ketaqwaan yang tertanam di dalam hati Ibrahim, Siti Hajar, Siti Sarah, dan Ismail.

Pertanyaannya sekarang adalah sudahkah akar ketaqwaan tertanam di dalam dada anggota keluarga kita? Untuk memastikan seluruh umat ini mendapatkan akar yang sama, Allah sebenarnya telah menyiapkan serangkaian langkah yang bila kita ikuti dengan seutuhnya akar tersebut dapat tumbuh kuat menjadi fondasi rumah tangga seorang muslim.

Untuk menumbuhkan ketaqwaan tersebut, Allah sediakan satu bulan pelatihan yaitu Ramadhan dimana mereka yang taat beribadah dengan iman dan perhitungan akan mendapatkan predikat sebagai hamba tattaquun (insan bertaqwa). Selanjutnya, untuk memantapkan ketaqwaan tersebut, selepas Ramadhan, Allah sambung dengan bulan Syawal yang dikenal juga sebagai bulan peningkatan. Selama bulan Syawal diharapkan ada penguatan sekaligus peningkatan derajat ketaqwaan seorang hamba.

Harta yang berlimpah dan kesejahteraan yang diperoleh bukan jaminan sebuah keluarga bisa hidup bahagia. Kekayaan yang berlimpah dan kemakmuran yang didapat belum tentu membuat seorang hamba bersedia laksanakan ibadah dan berkurban. Sebaliknya keterbatasan dan kekurangan takkan jadi penghalang buat mereka yang ingin menjalankan apa yang diperintahkan. Disinilah keberadaan taqwa disamping menjadi bekal utama juga menjadi penentu dan penggerak seorang hamba melaksanakan atau tidak menjalankan apa yang diperintahkan oleh Rabbnya.

Ibadah Kurban Sebagai Bentuk Kepedulian Sosial

Sebagai suatu ibadah yang Allah perintahkan, berkurban bisa dilihat dari beragam dimensi selain dimensi utamanya – ketaatan pada Allah semata.

Dalam pandangan nutrisi, kurban memungkinkan kita mencukupi asupan protein hewani dari daging segar hewan kurban. Sebagaimana jamak diberitakan bahwa saat ini begitu banyak makanan instan dan sebagian besarnya kalaulah tak mengandung racun setidaknya tiada membawa manfaat bagi kesehatan manusia. Kehadiran daging segar menjadikan menu makanan lebih bervariasi. Disini keluarga pun dituntut keahliannya dalam mengolah daging tersebut sehingga menjadi sajian nikmat yang dapat dinikmati semua anggota keluarga.

Dalam dimensi pendidikan dan pengasuhan,  kurban menghadirkan role model dari satu keluarga yang takwa sudah mendarah daging dalam kehidupan setiap anggotanya yaitu keluarga Ibrahim as. Mari kita baca kembali kisah kehidupan mereka di tengah keluarga kita masing-masing agar terus terinspirasi dan termotivasi sehingga bisa mengikuti.

Dan yang terpenting dari itu semua, kurban merupakan perwujudan kepedulian sosial. Di era di mana media sosial meraja lela, justru yang terjadi kepedulian sosial mulai tiada. Tak aneh bila kemudian banyak dijumpai anak remaja tak lagi peduli sesama, hidup dengan dunianya sendiri saja dan minim perhatian pada lingkungan. Kesibukan menyiapkan masa depan melalaikan mereka untuk melatih kecerdasan sosial.

Maka menjelang momen ibadah kurban ini, perlu kiranya para orang tua untuk meluaskan wawasan dan pandangan anak tentang lingkungan sekitar.  Bawa mereka untuk melihat kenyataan bahwa tak semua orang seberuntung mereka yang bisa berqurban. Masih banyak orang yang sering kelaparan ataupun berkekurangan dari segi makanan. Masih banyak pula yang berada dalam keterbelakangan. Timbulkan kesadaran dalam hati anak untuk secara sadar sedia berbagi.

Berkurban merupakan kesempatan bagi anak-anak kita melihat langsung contoh kepedulian sosial. Berkurban sekaligus memberi ruang bagi orang tua untuk mendidik kecerdasan sosial anak-anak mereka.

Bisa juga ditambahkan tentang dunia Islam yang universal. Tak hanya di lingkungan terdekat saja yang berkurban tapi seluruh dunia. Pendistribusian daging pun dibatasi oleh garis-garis teritorial karena ia bersifat global universal. Dunia tak selebar layar monitor laptop ataupun screen gadget mereka. Jadikan layar yang terbuka di hadapan mereka sebagai jendela tuk mengintip kondisi saudara-saudara seiman di belahan bumi lain.

Mendidik Anak dengan Taqwa dan Bahasa

Dalam pengasuhan dan pendidikan anak, taqwa juga menjadi salah satu bekal utama dalam mempersiapkan generasi yang kuat di masa yang akan datang. Dalam surat An-Nisaa ayat kesembilan Allah mengingatkan bahwa kunci utama dalam pendidikan anak adalah takwa dan perkataan yang benar.

Mari kita simak firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 9 tersebut yang terjemahannya:

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar (QS 4: 9).

Kunci pertama adalah taqwa. Ketaqwaan inilah yang menjadikan ayahanda Ibrahim taat tanpa syarat atas apa yang diperintahkan kepadanya walaupun berat. Ketaqwaan jugalah yang dimiliki oleh ibunda Siti Hajar yang memungkinkan ia kuat walau harus membesarkan anak sendirian di tengah padang pasir tak bertuan. Ketaqwaan harus dimiliki ayah-bunda yang menginginkan buah hatinya menjadi anak kuat dan taat dalam keimanan pada Tuhannya.

Kunci kedua dalam mendidik generasi penerus adalah berkata-kata yang benar (khoulan syadida). Perkataan yang benar harus seiring sejalan dengan upaya orang tua memperbaiki dirinya. Benar apa yang diucapkan, benar pilihan kata yang hendak disampaikan, benar maksud dan tujuan, benar cara menyampaikan, benar pula kata dan komitmen orang tua.

Saat menyampaikan maksudnya pada Ismail, seorang nabiyullah Ibrahim pun menggunakan kata-kata yang baik. Kata-kata yang keluar dari mulut Ibrahim sangat lembut dan komunikatif. Mari simak penggalan dialog Ibrahim tersebut: “Wahai anakku, tadi malam aku bermimpi, dalam mimpi aku menyembelihmu, bagaimana pendapatmu wahai anakku?” Ibrahim memperlakukan anaknya sebagai seorang yang miliki pendapat dan pandangan sendiri. Dari sini, para orang tua perlu belajar kembali berkomunikasi dengan menggunakan bahasa yang memanusiakan anak.

Penutup             

Kalaulah waktu terus berputar, beragam peristiwa terus terjadi, anak pun semakin tumbuh berkembang; pertanyaannya adalah apa upaya yang orang tua lakukan dalam waktu yang tersedia agar setiap peristiwa dalam tumbuh kembang anak adalah momen penuh pembelajaran dalam ketaatan pada Pemilik Alam.

Bila kita menginginkan anak-anak adalah generasi kuat dalam taat, maka kita pun tentu bersedia membangun ketakwaan di tengah keluarga dan tentu saja dimulai dari orang tua yang bertakwa dan menjaga kata-kata mereka.

Mari jadikan momen ibadah kurban di setiap setiap tahunnya sebagai pengingat dan motivasi membentuk keluarga Islami. Semoga pesan perbaikan dan peningkatan ketaatan selalu diperhatikan setiap keluarga. Lalu kita dapati generasi baru yang kuat secara fisik, ekonomi, emosi, dan intelegensi.

Wallahua’lam

Salam Inspirasi

Untuk artikel selanjutnya, Silahkan Baca : 

http://hasbiparenting.com/bagaimana-membiayai-anak-detail-5950

Ikuti channel youtube kami di:
www.YouTube.com/HasbiParenting

___________________________________________________________________________________________________
Ingin mengundang Coach Hasbi sebagai Pembicara & Pelatih?
Hubungi 0813 7461 4730 or email ke hasbiparenting@gmail.com
FOLLOW Twitter: @HasbiParenting