Satu Korban Lagi
oleh Admin Selasa, 17 Maret 2020 Sekolah Anak Tantangan dan Cara Menghadapinya
Satu Korban Lagi

Entah mengapa hari itu ia sengaja pulang agak telat. Dia tunggu petugas kebersihan menyelesaikan pekerjaannya. Tiba-tiba petugas kebersihan itupun menghampirinya dengan berbisik pelan, "Buk, sini ikut saya."

Belum selesai ia mengatur laju degup jantungnya yang berdentang kencang karena terkejut dan takut dengan ekspresi petugas kebersihan itu, petugas kebersihan pun kembali memberi instruksi kepada ibu guru ini.
"Tolong sepatunya dibuka dan jangan mengeluarkan suara," pinta petugas kebersihan itu sembari mendahului ibu guru berjalan menuju ke toilet.

"Cepet masukin...!"
"Nanti ketahuan."

Begitulah terdengar suara berbisik dari dalam ruang toilet sekolah. Makin gemetar ibu guru ini mendapati suara itu adalah suara seorang siswi yang ia kenal.

Setelah memberi kode dengan berdehem dan menanyakan siapa di dalat, akhirnya petugas kebersihan meminta pintu toilet dibuka. Siswi  sejak tadi di dalam ruang toilet itupun membukakan pintu dan mencoba menyembunyikan perbuatannya yang sudah ketahuan. Dua anak lelaki yang bersamanya akhirnya keluar dari persembunyian dengan wajah penuh ketakutan - salah seorang diantaranya bahkan bersimpuh memohon supaya perbuatannya tidak dilaporkan kepada orangtuanya.

Dari kedua siswa yang ketakutan itulah terungkap bahwa mereka diajak oleh siswi belia yang masih duduk di kelas empat sekolah dasar ini. Anehnya, siswi ini seperti tak merasa bersalah dan tenang menghadapi situasi yang sangat memalukan itu. Usut punya usut ternyata dia pun mengaku sudah sering melakukan hubungan badan dengan abang kandungnya sendiri.

Cerita di atas bukan cuplikan sebuah film BF atau pun drama korea.
Kisah di atas adalah peristiwa nyata terjadi.
Sebuah fragmen kehidupan tentang anak-anak polos yang menjadi korban.

Korban...?

Korban dari minimnya pengetahuan orangtua tentang pengasuhan, keroposnya keharmonisan keluarga, rapuhnya institusi keluarga sehingga tak sempat lagi memberi perhatian, sibuknya kita mengejar pemenuhan tuntutan kebutuhan ekonomi keluarga yang semakin sulit didapatkan, tersedianya fasilitas komunikasi yang memudahkan semua orang mengakses tayangan tidak senonoh, dan korban dari keimanan yang makin berkurang tergerus zaman.

Dan bila semua ini berlanjut, tak menunggu lama, korban berikutnya akan kembali berjatuhan.

Kita pasti berdo'a agar terhindar dari kondisi serupa.
Jangan lupa, iringi do'a dengan usaha.
Semoga kita semua mampu mendidik dan mengasuh buah hati kita dengan sebaik-baiknya.

Cukuplah siswi kelas empat sekolah dasar ini menjadi korban terakhir.

Salam #Inspirasi


*) Video ini boleh jadi sesuatu yang sangat perlu Anda ketahui:
https://www.youtube.com/watch?v=MB96XlHO5T8


**) Terimakasih sudah berkunjung ke web ini dan mensubscribe channel YouTube.com/HasbiParenting